Speaker Way

ruang

jika yang hidup harus mati

seperti malam berganti pagi

atau basah kemarau berganti

bolehkah rasa ini hidup

meski sebentar lalu kau bunuh

jika yang hidup harus tinggal

seperti burung membuat sarang

atau matahari pucuk di peraduan

bolehkah rasa ini tinggal pada hati yang diinginkan

meski sebentar harus terbang berganti sarang, bolehkan aku sejenak menang?

rasa itu hidup, jika kau tahu

dan yang hidup membutuhkan ruang hidup, jika kau tahu

dan hatimu adalah ruang hidup yang kupesan, jika kau tahu

pura-pura sajalah

Jika tidak bisa sungguh -sungguh, maka pura-pura sajalah

Sebab, pura-pura cinta, bisa jadi sunguh-sungguh cinta

Sebab dalam kepura-puraan, ada setitik kesungguhan. Ia menebar

Membelah diri, cepat menguasai.

Jika tidak bisa sungguh-sungguh baik, pura-pura baik sajalah

Sebab, pura-pura suka pun bisa jadi sungguh-sungguh suka

Sebab, dalam pura-pura ada nyata.

Jika tidak bisa nyata, semu pun tak apa. Asal itu kau, dan aku si pemelihara.

mari kita bicara

mari kita bicara, tentang saya dan anda.

Anda semestinya tahu, ketika saya memilih diksi “anda” pada percakapan kita, maka kita sedang ada jarak. Jarak yang anda buat sendiri, atau saya buat, atau kita sama-sama sepakat untuk membuat. Jarak yang barangkali jika dihilangkan membuat dua duri saling menusuk. Dan semua pun tahu, itu tidak baik. Oh, dan ketika saya merasa perlu menuliskan jarak antara saya dan anda, yaitu sebab ada kalimat yang perlu digaris bawahi. Ada kalimat yang telah berfont merah, tebal dan kapital.

Anda sangat ingin memiliki postur, maka saya akan dengan senang hati membeli postur anda. Apalagi? Seribu sikap anda yang mengatakan bahwa, “kita sedang ada jarak” akan saya layani. Dan seribu tanda bahwa, “kita sedang ada jarak” akan saya taati.

Hanya saja semestinya dalam jarak ada etika. Dalam jarak ada rambu. Saya setuju itu, tapi anda telah melanggar. Menjual simpati dengan mengampanyekan jarak adalah kecurangan. Sebab, ini punya kita. Ada anda, dan saya berinvestasi di dalamnya. Anda tentu dapat saya tuntut, atas dasar kesengajaan telah melakukan praktetk-prektek one prestasi. Atau mempengaruhi pihak ketiga untuk menilai investor -dalam hal ini adalah saya- atas dasar sangkaan dan menjadikan acuan, lalu dikampanyekan. Oh, jelas itu pelanggaran. Saya tahu, kalbu anda mengerti itu. Sebab, kalbu kita sama-sama terbuat dari yang Maha Mengerti. Tapi saya tak tahu, mengapa anda mengabaikan itu. Apakah anda tak tahu resikonya jika anda mengabaikan Yang maha Mengerti? Jika anda tahu, anda bisa saja celaka jika Yang Maha mengerti mencontoh Anda bagaimana caranya berbuat abai lalu mempraktekannya kepada Anda.

Akan tetapi, karena saya bukan wasit, melainkan adalah pemain dalam pertandingan ini juga, maka saya tak akan mempermasalahkan itu. Saya tidak dalam posisi mengatur anda, menilai benar salah kelakuan anda. Tidak ada gunanya.

Saya sudah cukup puas melakukan yang semestinya saja. Meski harus saya akui, banyak hal yang tak semestinya saya lakukan, tetap saya lakukan.

Selamat bermain dalam jarak kita. Semoga anda tidak sedang memelihara dendam, sebab hidup cuma permainan, dan mati adalah bahagia. Dan selamanya saya akan enjoy-enjoy saja.

Dan sebelum saya mengakhiri pesan ini. Saya hanya ingin memberi tahu, meski saya melayani jarak kita. Saya selalu berusaha melarang hati saya untuk terlibat dalam permainan ini. Saya membiarkan jarak, untuk menghormati postur anda saja. Di balik itu semua, ada berjuta pintu yang saya biarkan tetap terbuka. Saya tidak lagi akan menggangu anda, dengan mengetuk pintu anda. Tapi jika suatu hari anda butuh keteduhan. Masuklah dengan pintu mana saja, sebab -sekali lagi- ia senantiasa saya buka. Dengan kesadaran, hanya untuk anda. Yang bermain dalam jarak. Tanpa etika.

kotoran

Kalaupun burung ingin membuang kotoran,

Kurasa dia akan berhenti terbang, dan hinggap dulu di dahan.

Mengapa kau begitu sembarang, menjatuhkan kotoran semerta karena praduga

upaya kecil

Apapun kamu, adalah apapun yang kamu lihat pada dirimu. Siapa kamu atau bagaimana kamu, tak pernah ditentukan oleh penilaian orang-orang disekelilingmu. Setiap orang ingin merasa berharga, maka wajar jika kau pun ingin menjadi berharga.

Demikian juga dengan orang-orang di sekelilingmu, mereka ingin menjadi berharga. Maka hargailah mereka. Sebab, merendahkan mereka pun tak ada untungnya buatmu. Dan akan lebih baik, jika kau sadar bahwa dengan menghargai mereka, kau sedang mempersiapkan diri menjadi orang bermental berharga.

Hargilah orang di sekitarmu, cukup dengan kesadaran bahwa mereka berharga. Atau cukup dengan kesadaran bahwa; tak ada yang pantas direndahkan dari mereka. Atau cukup dengan kau berniat dan sadar untuk menghargai mereka.

Tak perlu memasang topeng setipis apapun itu, yang membungkus perilakumu agar tampak seperti orang yang pandai menghargai orang lain. Kau tak akan mendapatkan apapun dengan cara palsu. Sebab, apapun yang berharga tak pernah lahir dari kepalsuan.

Terlebih, menurut Brian Tracy.

“Jika kau ingin berharga, kerjakanlah upaya dan hal-hal kecil. Hal-hal yang tak terlihat atau tak dihargai oleh orang lain.”

Maaf jika aku -sengaja atau tak sengaja, sadar atau tak sadar- pernah membungkus kebaikanku padamu. Dan maaf, jika aku tak pernah bermaksud merendahkanmu, tapi kau merasa tersakiti sebab perilaku tanpa kusadari menyinggungmu.

@dhrmaputra

rahasia

Kala waktu berganti dari detik yang mengiringi

Dan matahari yang diam-diam sembunyi

Aku seakan tak pernah mengenalmu

Ketika ada kotak yang kubuka

Mengenaimu namun tak pernah kau bagikan untukku

Lalu dengan dungu keledai terperangah

Sebab memperlakuan dewi dengan pongah

Dan sembunyi dibalik karton yang kawujudkan muka seperti

Apa yang kau mau

Aku dulu selalu percaya jika kau mengatakan setuju. Kau pasti setuju.

Jika ya, maka kau lakukan

Dan sekarang aku dua kali terperangah, sebab ada yang kau sembunyikan

Tanpa kau perlu bicara, efeknya dua kali lebih besar dibanding kau mengatakannya

Seperti kau menyembunyikan kotak itu

Aku memang sengaja tak memberitahu, bahwa ini kutulis untukmu.

perempuanku

Sudah setua ini apakah aku semestinya malu

Bila kuingat masanya

Saat perempuan itu mengelus punggungku sampai hangatnya menenangkan

Atau mengelus keningku hingga mata terlelap

Saat kulempari batu, atau kubentak sebab tak mau mengerti bahwa aku sedang ingin makan coklat

Tak peduli gigiku keropos atau baru sembuh batuk

Sudah sebesar ini apakah aku semestinya malu

Saat kuingat ia memberi nasehat

Bukan dengan kalimat yang kudengar dari mulutnya

Sebab benjolan menghalangi suara

Lalu dengan gagap ia menuliskannya

“cepat besar, jangan cengeng, cepat dewasa”

Atau kala dia selalu percaya

Saat senyum mengembang dan kebaikan dalam lipatan perhatian

Bagaimana ia menjamu tukang becak yang mengantarnya pulang sebab terjebak hujan

Atau kala ia menyuguhkan air putih untuk si pencuri yang telah babak belur sebab tertangkap basah mencuri perabot rumah

Semestinya, kunikmati air yang tiba-tiba meleleh

Hangat

Bersulur-sulur, menyapamu perempuanku

Ada banyak maaf yang ingin kusampaikan

Ada banyak cerita yang ingin kubagi

Ada seseorang yang ingin kukenalkan

Semoga tak ada bedanya aku menjumpaimu di hatiku

sebab hanya itu yang aku bisa.

“dan sebentar lagi kita berjumpa”

hampir usai tawamu

Hampir usai tawamu

Di periuk senja yang sebentar itu

biar kupunguti satu persatu

bius serpih itu

untuk bekal rinduku

barangkali

selama ini, yang menggiringku untuk berjumpa denganmu di balik selimut lelapku, barangkali bukan kantuk..

cop-pot

Besok tolong sediakan sekop, juga periskop

Buat mencop daki yang susah cop-pot

Sebab bila tak cop-pot bakal makin repot

Seperti tanaman  dalam pot, yang tak kena air meski cuma standar got

Cepat-cepat baiknya cepat, biar cepat dapat, biar cepat hebat

Kalo tunas sudah cupet, rapet, kelipet-lipet

Perlu ini-itu dipikir melulu

Kerjakan saja bila mau, lepas bila tak mau

Sebab enak kalo mau dan mau

Tak ada paksa yang ada cuma mau

Mau, sekedar itu. Tanpa tendensi, apalagi awang-awang mabuk kepalang

Jago plan, tak punya tangan kaki pun hilang

otak penuh daki yang tak mau cop-pot

maka perlu segera di cop

Tolong sediakan sekop

Buat besok, lusa, atau kemarin

aku butuh periskop.